Prestasi
membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Institut Teknologi Padang
melalui keberhasilan meraih pendanaan Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan
Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra. Capaian ini menjadi bukti
bahwa ide-ide yang tumbuh di lingkungan akademik mampu menjawab persoalan riil
masyarakat secara konkret dan berkelanjutan.
Apresiasi
tinggi layak diberikan kepada tim penerima pendanaan yang berhasil merancang
pendekatan pemulihan pascabencana berbasis kebutuhan warga. Fokus utama
diarahkan pada pemulihan akses air bersih dan penguatan ketahanan ekonomi
masyarakat. Inisiatif ini tidak hanya merespons kondisi darurat, tetapi juga
menyiapkan fondasi jangka panjang bagi keberlanjutan hidup warga
terdampak.
Tim
ini dipimpin oleh Hafni, S.T., M.T., bersama Asnal Effendi, S.T., M.T. dan Dr.
Herix Sonata MS, M.Si., dengan melibatkan 50 mahasiswa lintas organisasi
kemahasiswaan. Seluruh aktivitas mahasiswa dikoordinatori oleh Ade Ryan
Mustaqim dari BEM ITP, memastikan sinergi ide, tenaga, dan aksi berjalan
terstruktur serta berdampak maksimal.
Keberhasilan
meraih hibah ini tidak lepas dari kekuatan konsep yang diusung. Program
menghadirkan teknologi pengolahan air bersih dan sistem aquaponic berbasis
ekonomi hijau dengan dukungan energi matahari. Inovasi tersebut diproyeksikan
menjadi solusi pemulihan pascabencana yang aplikatif, ramah lingkungan, dan
mampu meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat.
Pencapaian
ini sekaligus menegaskan kualitas sumber daya manusia ITP yang adaptif terhadap
tantangan sosial dan lingkungan. Mahasiswa dan dosen tidak hanya berperan
sebagai akademisi, tetapi juga sebagai problem solver yang menghadirkan ilmu
pengetahuan untuk menjawab kebutuhan nyata di tengah masyarakat.
Lebih
dari sekadar raihan pendanaan, keberhasilan ini menjadi motivasi bagi seluruh
sivitas akademika untuk terus melahirkan program-program berdampak. Dengan
semangat kolaborasi dan kepedulian, ITP terus menegaskan komitmennya sebagai
kampus yang menghadirkan ilmu, menggerakkan aksi, dan menumbuhkan harapan bagi
masa depan yang berkelanjutan.
Created By Widia/Humas
...
Langkah tegap dan semangat membara para pendekar
muda Institut Teknologi Padang (ITP) kembali menggetarkan gelanggang Kejuaraan
Provinsi (Kejurprov) Sumatera Barat 2025. Empat atlet pencak silat yang
merupakan mahasiswa ITP sukses membawa pulang medali dengan performa luar biasa
yang mengukuhkan nama kampus teknik ini sebagai rumah para juara sejati.
Mereka adalah Satria Zaky, Rangga Firnando, Resya
Fega, dan Inggil Susilo. Kemenangan ini membuktikan bahwa ITP bukan hanya
mencetak insinyur unggul, tapi juga melahirkan pendekar-pendekar tangguh yang
mampu bersaing di tingkat provinsi bahkan nasional.
Satria Zaky menjadi bintang utama dengan meraih
medali emas di Kelas E Putra (65–70 kg), menjadikannya juara pertama dalam
kategori tersebut. Mahasiswa ini tidak hanya menunjukkan teknik bertarung yang
mumpuni, tetapi juga memperlihatkan semangat pantang menyerah yang menjadi ciri
khas mahasiswa ITP.
Sementara itu, dua medali perak diraih oleh Rangga
Firnando dan Resya Fega. Rangga tampil gemilang di Kelas C Putra (55–60 kg),
sedangkan Resya berjaya di Kelas F Putra (70–75 kg). Keduanya memperlihatkan
ketangguhan fisik dan strategi yang luar biasa. Meskipun belum berhasil meraih
emas, performa mereka layak diapresiasi tinggi.
Tak kalah membanggakan, Inggil Susilo
mempersembahkan medali perunggu dari Kelas D Putra (60–65 kg). Meski harus puas
di peringkat ketiga, perjuangannya hingga tahap semifinal memberikan pelajaran
penting soal sportivitas dan semangat juang.
Di balik medali yang gemerlap, ada latihan keras,
pengorbanan waktu belajar, serta dukungan penuh dari pelatih dan pihak kampus.
ITP sebagai institusi vokasi dan teknologi, juga memberikan perhatian terhadap
pengembangan minat dan bakat mahasiswanya.
Prestasi empat atlet pencak silat ini adalah
cerminan wajah baru pendidikan tinggi, tak hanya soal IPK, tapi juga keberanian
bertanding dan mental juara. Bagi ITP, ini hanyalah awal. Langkah ke depan akan
diiringi lebih banyak kemenangan dan regenerasi atlet-atlet muda. Dengan
dukungan yang berkelanjutan, bukan tidak mungkin ITP akan bersinar di ajang
nasional bahkan internasional.
Created By Widia/Humas ...
Lembaga
pemeringkatan perguruan tinggi internasional Webometrics of World
Universities kembali merilis daftar peringkat kampus dunia tahun 2025.
Dalam pemeringkatan berbasis visibilitas digital, transparansi data, dan
keunggulan akademik ini, Institut Teknologi Padang (ITP) mencetak lompatan
signifikan.
ITP
berhasil menembus posisi ke-281 nasional dan meraih peringkat ketiga Perguruan
Tinggi Swasta (PTS) terbaik se-Sumatera Barat. Posisi ini meningkat dari tahun
lalu 477 di Indonesia dan urutan 8 PTS se Sumatera Barat dan menjadi momentum
penting bagi ITP dalam memperkuat eksistensinya sebagai kampus teknologi unggul
di ranah digital dan akademik.
Webometrics
dikenal sebagai lembaga pemeringkat independen berbasis di Spanyol yang telah
memetakan lebih dari 32.000 perguruan tinggi di seluruh dunia. Indikator utama
penilaiannya mencakup visibility (pengaruh konten situs perguruan
tinggi), transparency (keterbukaan data ilmuwan dan publikasi), serta excellence
(jumlah artikel ilmiah terindeks di jurnal bereputasi tinggi).
Webometrics
memberi sorotan terhadap performa digital dan kontribusi akademik global dari
tiap kampus dengan sistem penilaian komprehensif. Dalam kategori visibility,
situs resmi ITP dinilai mengalami lonjakan tajam dalam jumlah dan kualitas
konten yang terpublikasi.
Tak
hanya itu, pada aspek transparency, ITP dinilai unggul dalam membuka
data ilmuwan, publikasi, dan rekam jejak akademik secara publik dan
terverifikasi. Transparansi ini penting untuk membangun kepercayaan dalam
ekosistem pendidikan tinggi yang berbasis integritas dan keterbukaan.
Sementara
itu, dari sisi excellence, peningkatan jumlah publikasi ilmiah ITP di
jurnal internasional turut berkontribusi dalam memperkuat posisi kampus ini.
Ini menunjukkan komitmen ITP dalam menghasilkan karya ilmiah berkualitas
sekaligus memperluas reputasi akademiknya di level global.
Dengan
keberhasilan masuk 3 besar PTS terbaik se-Sumatera Barat versi Webometrics
2025, ITP mengukuhkan diri sebagai institusi pendidikan tinggi teknologi yang
tidak hanya berorientasi pada pengajaran, tetapi juga unggul dalam pengelolaan
digital, riset, dan kontribusi sosial.
Created By Widia/Humas
...
Semangat
juang mahasiswa Institut Teknologi Padang (ITP) kembali menggelora di arena
olahraga. Sebanyak 12 atlet terpilih siap bertarung di ajang bergengsi
Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Sumatera Barat 2025 yang digelar Badan Pembina
Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Sumbar. Bertanding mulai 16 hingga 26
Juli mendatang, kontingen ITP tak hanya membawa nama kampus, tapi juga semangat
pantang menyerah dan mimpi besar menembus podium kehormatan.
Keberangkatan
para atlet ini secara resmi dilepas oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan
Kemahasiswaan ITP, Prof. Dr.Eng. Ir. Maidiawati, S.T., M.Eng., IPM., yang
didampingi oleh Kepala Biro Badan Kemahasiswaan dan Pusat Karir ITP,
Nelvidawati, M.T., pada Selasa, (15/07) di Ruang Sidang Utama ITP. Dalam arahannya,
Prof. Maidiawati menyampaikan rasa bangga dan harapan besar kepada seluruh
atlet untuk menjaga sportivitas dan menjunjung tinggi nama baik kampus.
Ajang
ini menjadi pembuktian bahwa mahasiswa ITP tak hanya hebat di laboratorium,
tapi juga sanggup mengguncang lapangan. Kehadiran 12 atlet di berbagai cabang
mulai dari pencak silat, karate, hingga bola voli indoor menandai keseriusan
ITP dalam membangun karakter mahasiswa melalui prestasi non-akademik yang
kompetitif, sportif, dan membanggakan.
Cabang olahraga Pencak Silat menjadi sektor yang paling banyak menyumbang
perwakilan, tercatat lima atlet ITP yakni Candra, Inggil Susilo, Rangga Firnando, Resya
Ahmad Fega, dan sang jawara kampus, Satria Zaky. Mereka akan menghadapi lawan
dari seluruh Sumbar dalam duel teknik dan strategi silat terbaik. Zaky sendiri
siap mempertahankan reputasi emas yang ia raih di ajang Direktur PNP Cup
beberapa waktu lalu.
Rahul
Maryulis Putra menjadi satu-satunya wakil ITP di cabang karate ia membawa
semangat bertarung yang tenang namun mematikan. Dikenal sebagai mahasiswa dengan
kedisiplinan tinggi, Rahul optimis bisa meraih podium untuk mempersembahkan
prestasi bagi kampus tercinta. Karate menjadi cabang yang penuh gengsi karena
banyaknya atlet tangguh dari kampus lain yang turut serta.
Di
cabang bola voli indoor, Muhammad Ardifa bersama tim beregu putra ITP juga siap
unjuk gigi. Tim ini telah mengasah strategi permainan dan kekompakan tim sejak
awal tahun. Konsistensi latihan dan chemistry antarpemain jadi kekuatan utama
menghadapi lawan tangguh. Mereka berharap bisa lolos hingga babak final dan
membuktikan bahwa voli ITP tak bisa dianggap remeh.
Keikutsertaan
dalam Kejurprov bukan sekadar kehadiran simbolik, ini adalah panggung serius
menuju ajang nasional. BAPOMI Sumbar menaruh harapan besar terhadap
kampus-kampus yang mengirimkan atlet terbaiknya. Kejuaraan ini dirancang
sebagai jalur pembinaan menuju POMNAS dan sekaligus momentum mencetak generasi
muda yang sehat, berintegritas, dan berprestasi lintas bidang.
Dukungan
dari Institut Teknologi Padang pun tak main-main, Kepala Biro Kemahasiswaan
menegaskan bahwa seluruh atlet mendapatkan dukungan moril dan fasilitas
pendampingan. “Kami ingin mahasiswa berprestasi secara utuh. Baik akademik
maupun non-akademik harus didukung dengan serius, dan Kejurprov ini adalah
bukti nyata komitmen itu,” tegasnya.
created
By Widia/Humas
...
Prestasi
membanggakan kembali ditorehkan Institut Teknologi Padang (ITP), Tim mahasiswa
dari Program Studi Teknik Mesin berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas
Mahasiswa (PKM) 2025 untuk skema Riset Eksakta (PKM-RE). Karya berjudul “Brina:
Analisis Biobriket Non Adhesive dari Pemanfaatan Limbah Serat TKKS dan Cangkang
Sawit sebagai Sumber Energi Terbarukan” , ini tak hanya relevan secara
ilmiah, tapi juga menyentuh isu strategis global terkait energi terbarukan.
Dibimbing
langsung oleh Dr. Ir. Nofriady Handra, tim ini mendapat pendanaan senilai
Rp7.080.000. Tim yang diberi nama Brina ini diketuai oleh Decky
Seprianto, dengan anggota Abdul Jalil, Reyvo Maizaqi, dan Fajar Ihsanul Riski.
Mereka menjadi satu-satunya tim dari ITP yang berhasil menembus ketatnya
seleksi nasional dari ribuan proposal yang masuk ke Kemendikti Saintek
Dalam
wawancara dengan Decky, ia menuturkan bahwa ide riset berangkat dari
ketertarikannya pada energi terbarukan saat terlibat dalam riset bersama dosen
pembimbing. “Kami ingin mengatasi krisis iklim dengan memanfaatkan limbah sawit
menjadi energi alternatif. Riset ini lahir sebagai bentuk tanggung jawab kami
terhadap lingkungan,” ungkapnya. Judul Brina sendiri merupakan akronim
yang merepresentasikan visi mereka tentang energi hijau yang efisien.
Sementara
itu, Abdul Jalil menjelaskan bahwa Ibahwa limbah kelapa sawit memiliki
karakteristik fisik dan kimia yang sangat cocok untuk dijadikan bahan baku
biobriket. “Banyak limbah sawit dibuang begitu saja, padahal ini bisa didaur
ulang menjadi energi bersih. Kami ingin mengubah masalah jadi solusi,” katanya.
Upaya ini juga sejalan dengan visi global tentang green energy serta target
pengurangan emisi karbon dari sektor industri berbasis biomassa lokal.
Reyvo
memaparkan bahwa riset ini tergolong baru dan belum banyak dikembangkan
sebelumnya. “Kami sedang dalam tahap awal pengujian. Tantangannya ada pada
proses formulasi dan efisiensi pembakaran tanpa bahan perekat,” katanya.
Tantangan lain datang dari pembagian waktu antara riset, kuliah, dan persiapan
laporan. Namun dengan manajemen tim yang baik, semua bisa teratasi secara
kolektif dan terstruktur.
Pembagian
tugas dalam tim menjadi salah satu kekuatan utama. Decky memegang kendali
koordinasi dan pelaporan, Jalil bertugas sebagai sekretaris, Reyvo mencatat
logbook dan keuangan, dan Fajar bertanggung jawab untuk konten serta
dokumentasi. “Dengan pembagian peran yang jelas, riset berjalan lebih rapi dan
terukur,” ujar Fajar.
Kabar
kelolosan menjadi momen yang tak terlupakan. Decky menyebut ini sebagai
pengalaman yang sangat membanggakan. “Menjadi satu-satunya tim ITP yang lolos
dari 1.590 proposal se-Indonesia adalah kehormatan. Tapi ini juga jadi tanggung
jawab untuk membawa nama kampus lebih tinggi,” tegasnya. Kini, mereka sedang
menyusun strategi untuk mencapai target berikutnya yakni lolos ke PIMNAS.
Decky
menutup dengan pesan inspiratif. “PKM ini bukan sekadar soal angka dan data,
tapi soal dampak. Kami ingin solusi yang kami tawarkan benar-benar bisa
menjawab kebutuhan masyarakat dan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain,”
ungkapnya. Bagi ITP, kehadiran tim Brina menjadi bukti bahwa kampus
teknik ini mampu mencetak inovator muda yang siap memberi solusi berkelanjutan
untuk Indonesia.
Created
By Widia/Humas
...